PROPOSAL PTK
- Judul: Meningkatkan Motivasi Belajar Memahami Cerita Rakyat dengan Teknik Bermain Peran (Drama) pada Siswa Kelas X 3 SMA Negeri 1 Yogyakarta
- Pendahuluan
- Latar Belakang Masalah
Krisis moral yang terjadi pada remaja marak diperbicangkan. Krisis moral diperlihatkan dengan banyaknya perilaku menyimpang yang dilakukan para remaja seperti etika sopan-santun yang semakin diabaikan, pergaulan bebas, sampai dengan penggunaan narkoba. Krisis moral yang terjadi pada para remaja tidak lepas dari semakin pudarnya pendidikan karakter kepada para remaja. Banyak alasan yang menyebabkan semakin pudarnya pendidikan karakter, di antaranya zaman globalisasi yang menyebabkan remaja terpengaruh budaya luar melalui internet, televisi, dan lunturnya norma-norma dalam masyarakat, serta semakin sedikit keluarga yang masih menanamkan pendidikan karakter kepada anaknya.
Melihat kenyataan di atas pendidikan karakter penting diberikan kepada siswa. Pendidikan karakter berupa moral kebajikan itu harus terpancar dari samanya ucapan, sikap, dan perbuatan atau jika meminjam konsep Thomas Lickona (1999) adalah harmoninya antara moral knowing, moral feeling, dan moral action dalam pengertian bahwa seseorang yang berkarakter itu mempunyai pikiran yang baik (thinking good), memiliki perasaan yang baik (feeling good), dan juga berperilaku baik (acting good).
Pendidikan karakter dapat menjadikan bekal untuk siswa dalam berperilaku sesuai dengan tatanan nilai-nilai luhur yang ada dalam kehidupan berbangsa. Tatanan nilai-nilai luhur yang dalam kehidupan berbangsa dapat digali melalui seperti cerita rakyat. Cerita rakyat (folk tale) bagian dari folklore yang berupa tradisi yang telah dilakukan oleh masyarakat secara turun-temurun. Siswa tidak hanya belajar tentang tradisi budaya bangsanya melalui cerita rakyat, tetapi juga moral yang ingin disampaikan melalui cerita rakyat.
Selain hal tersebut, cerita rakyat juga termasuk salah satu materi yang ada dalam Standar Kelulusan (SKL) yang diujikan secara nasional. Oleh karena penting dan bermanfaatnya pembelajaran cerita rakyat, diharap siswa memiliki motivasi dalam belajar. Dengan motivasi yang tinggi, maka ketercapaian belajar semakin maksimal.
Berdasarkan observasi awal peneliti, masih banyak anak yang belum mengenal cerita rakyat yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Hal ini terbukti ketika siswa kelas X 3 diberi beberapa pertanyaan tentang cerita rakyat yang berasal dari luar Jawa, seperti cerita rakyat dari Aceh, Bali, Nusa Tenggara, dan lain-lain tidak dapat menjawab pertanyaan. Ketika diberi pertanyaan mengapa tidak tahu karena mereka jarang membaca dan mendengar cerita rakyat. Mereka beranggapan cerita rakyat tidak menarik karena cerita dalam cerita rakyat monoton, tidak modern, sehingga membosankan.
Melihat kenyataan di atas, perlu diupayakan membangkitkan minat belajar siswa dalam kegiatan belajar cerita rakyat. Salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan memberikan metode yang menarik. Metode bermain peran salah satu metode yang menarik. Selain metode bermain peran memberikan siswa bebas berekspresi sesuai dengan karakter tokoh dalam cerita, siswa dapat mempelajari nilai-nilai moral yang terkandung dalam cerita rakyat tanpa merasa digurui.
Bermain peran melibatkan siswa secara optimal. Siswa tidak hanya mempelajari isi cerita, tetapi juga mengubah cerita dalam bentuk seni pertunjukkan. Siswa dapat belajar mempersiapkan pemeranan dengan mengubah cerita dalam bentuk naskah drama, belajar memerankan karakter, mempersiapkan properti yang mendukung, sampai dengan penguasaan panggung.
Metode bermain peran juga melibatkan aktivitas siswa secara kelompok sehingga membutuhkan kerja sama antaranggota kelompok. Kerja sama antaranggota kelompok yang baik akan menentukan keberhasilan dalam bermain peran yaitu kesepakatan bersama, kekompakkan, saling memotivasi. Jadi, ada beberapa hal yang dapat menentukan keberhasilan suatu metode bermain peran yaitu kerja sama antarkelompok, penguasaan cerita, penguasaan pemeranan, sampai dengan penguasaan pementasan.
Metode bermain peran juga melibatkan siswa yang menonton penampilan temannya dalam bermain peran. Siswa tidak hanya berkreasi melalui pementasan, tetapi juga mengapresiasi penampilan teman dalam bermain peran. Siswa yang menonton dapat memberikan penilaian keunggulan dan kekurangan pementasan teman.
Dari uraian di atas, metode bermain peran tepat digunakan dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia khususnya dalam mempelajari cerita rakyat. Metode tersebut tepat jika diterapkan pada siswa kelas X 3 SMA Negeri 1 Yogyakarta yang sebagian besar beranggapan cerita rakyat tidak menarik dan membosankan. Dengan melibatkan secara penuh dan aktif, siswa dapat menemukan keindahan karya sastra lama yang terdapat dalam cerita rakyat. Hal ini sejalan dengan pendapat Suyatno bahwa salah satu metode pendekatan pembelajaran yang dapat membangkitkan minat belajar siswa adalah metode partisipatori. Metode partisipatori lebih menekankan keterlibatan siswa secara penuh. Dalam metode partisipatori, siswa aktif, dinamis, dan berlaku sebagai subjek. Dengan berpartisipasi aktif, siswa dapat menemukan hasil belajar.
Metode bermain peran sejalan dengan paradigma pembelajaran yaitu learning to know, (2) learning to do, (3) learning to be, (4) learning to live together. Pembelajaran merupakan bentuk penyelenggaraan pendidikan yang memadukan secara sistematis dan berkesinambungan suatu kegiatan. Kegiatan pembelajaran diarahkan untuk memberdayakan semua potensi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang diharapkan. Kegiatan pembelajaran mengembangkan kemampuan untuk mengetahui, memahami, melakukan sesuatu, hidup dalam kebersamaan, dan mengaktualisasikan diri (Puskur 2004). Oleh sebab itu, penulis akan mengadakan penelitian tentang peningkatan motivasi belajar prosa lama melalui metode bermain peran.
- Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat diidentifikasi beberapa masalah sebagai berikut.
- Apa sajakah kendala-kendala yang dihadapi guru dan siswa kelas X 3 SMA N 1 Yogyakarta dalam pembelajaran memahami cerita rakyat?
- Apa sajakah kendala-kendala yang dihadapi guru dan siswa kelas X 3 SMA N 1 Yogyakarta dalam penerapan metode teknik bermain peran?
- Apakah metode bermain peran dapat meningkatkan motivasi siswa kelas X 3 SMA N 1 Yogyakarta dalam memahami cerita rakyat?
- Bagaimana peningkatan motivasi belajar siswa kelas X 3 SMA N 1 Yogyakrta dalam memahami cerita rakyat melalui metode bermain peran?